Mimpi Anak Desa: Terbang Bersama Kambing

Mimpi Anak Desa: Terbang Bersama Kambing
Di matanya, dua kambing ini bukan sekadar hewan ternak — merekalah sayap impiannya. (Dok. Pribadi)

Narasio – Di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh sawah hijau dan bukit-bukit yang menjulang, hiduplah seorang anak bernama Akih. Dia adalah anak yang ceria dan penuh imajinasi.

Setiap hari, setelah pulang dari sekolah, ia akan bermain bersama kambingnya, si Jeje. Jeje adalah kambing yang lucu dan selalu setia menemani Akih dalam petualangannya.

Suatu malam, setelah seharian bermain, Akih tertidur dengan lelap. Dalam mimpinya, ia menemukan dirinya berada di sebuah dunia yang sangat berbeda. Di dunia itu, langit berwarna ungu dengan bintang-bintang berkilauan yang menari-nari.

Akih melihat Jeje, kambing kesayangannya, berdiri di sampingnya dengan sayap yang indah dan berkilau. “Akih, ayo kita terbang!” seru Jeje dengan suara lembutnya.

Tanpa ragu, Akih melompat ke punggung Jeje. Dalam sekejap, mereka melesat ke udara, meninggalkan desa dan sawah di bawah mereka.

Mereka terbang tinggi, melintasi awan-awan lembut yang seolah-olah terbuat dari kapas. Akih merasakan angin sejuk menyapu wajahnya, dan ia tertawa bahagia.

Di atas langit, mereka menjelajahi berbagai tempat yang menakjubkan. Mereka melihat pulau-pulau yang dikelilingi lautan biru, hutan-hutan yang dipenuhi dengan pohon-pohon raksasa, dan gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Di setiap tempat yang mereka singgahi, Akih bertemu dengan peri-peri yang cantik, naga yang berwibawa, dan burung-burung berwarna-warni yang menyanyikan lagu-lagu indah.

Setiap petualangan di dunia mimpi itu mengajarkan Akih tentang keberanian, persahabatan, dan pentingnya mengejar cita-cita.

Ia menyadari bahwa meskipun ia hanyalah seorang anak desa, ia memiliki imajinasi yang tak terbatas.

Jeje, dengan sayapnya yang megah, menjadi simbol dari semua impian dan harapan yang ingin ia capai.

Namun, saat matahari mulai terbit, Akih merasakan bahwa ia harus kembali ke dunia nyata. Dengan berat hati, ia melambaikan tangan kepada Jeje dan mengucapkan selamat tinggal.

“Terima kasih, je. Aku akan selalu mengingat petualangan kita,” katanya.

Ketika Akih terbangun, ia masih merasakan kebahagiaan dari mimpinya. Ia berlari keluar rumah dan mencari Jeje. Melihat kambing itu sedang merumput di halaman, Akih tersenyum lebar.

Sejak hari itu, Akih mulai menggambar dan menulis cerita tentang petualangannya di dunia mimpi. Ia juga membantu orang tuanya dan belajar arti sebuah kehidupan.

Mimpinya untuk terbang bersama Jeje menjadi motivasi baginya untuk belajar dan berusaha lebih keras.

Akih menyadari bahwa meskipun ia tidak bisa terbang di dunia nyata, imajinasinya memberinya sayap untuk mengejar semua impian yang ada di dalam hatinya.

Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak pernah berhenti bermimpi, karena setiap mimpi adalah langkah menuju cita-cita yang lebih besar.

Dan begitulah, di desa kecil itu, seorang anak bernama Akih terus terbang tinggi dengan imajinasinya, menjelajahi dunia yang tak terbatas, dan menginspirasi teman-temannya.

Mimpi-mimpi mereka menjadi jembatan menuju masa depan, di mana segala sesuatu mungkin terjadi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *